Mengungkapkan dan Menilai Isi Bacaan

Mengungkapkan dan Menilai Isi Bacaan

Saudara mahasiswa dalam hubunganya dengan pengungkapan nilai isi bacaan yang harus Saudara ketahui dan pahami bahwa kemampuan membaca dapat ditolokukuri oleh dua kemampuan utama, yakni: (1) kemampuan visual dan (2) kemampuan kognisi. Kemampuan visual adalah kemampuan mata melihat dan menangkap lambang-lambang tulis secara cepat. Sementara kemampuan kognisi adalah kemampuan otak memahami makna dan maksud lambang-lambang secara tepat. Kemampuan membaca yang sesungguhnya itu sering juga disebut kemampuan/kecepatan efektif membaca (KEM). KEM merupakan perpaduan antara kemampuan visual (kecepatan mata melihat lambang) dan kemampuan kognisi (ketepatan otak memaknai lambang). KEM dapat ditentukan dengan membagi jumlah kata yang dibaca dengan waktu tempuh, lalu dikalikan dengan persentase pemahaman bacaan.

Dalam menghadapi sumber informasi yang melimpah, pembaca dituntut memiliki kemampuan memilih bahan bacaan dengan cepat serta berkemampuan membaca cepat pula. Untuk itu, diperlukan strategi-strategi membaca yang efektif. Membaca memindai sebagai salah satunya. Terdapat dua jenis membaca memindai, yaitu scanning dan skimming. Scanning merupakan jenis membaca cepat dengan tujuan untuk menemukan informasi khusus/tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya dalam suatu teks. Skimming menuntut pembaca memiliki kemampuan memproses teks dengan cepat guna memperoleh gambaran/kesan umum mengenai suatu teks, meliputi organisasi, gaya, fokus tulisan, gagasan-gagasan utama, dan sudut pandang penulis, termasuk mengenai kaitan teks dengan kebutuhan dan minat pembaca. Untuk kepentingan pemahaman, kegiatan membaca harus memperhatikan 3 aspek berikut: preview, predicting, dan fleksible (kecepatan variatif). Preview: kegiatan prabaca; predicting: kegiatan pada saat membaca berlangsung dengan melakukan dugaan-dugaan; fleksible mengatur tempo dan kecepatan baca secara bervariasi sesuai dengan karakteristik bahan dan tujuan baca.

Untuk dapat menilai bacaan diperlukan kemampuan membaca kritis. Membaca kritis (critical reading) adalah kegiatan membaca dengan bijaksana, penuh tenggang hati, mendalam, evaluatif, serta analitis, dan bukan mencari-cari kesalahan penulis. Salah satu ciri dari membaca kritis adalah berpikir dan bersikap kritis. Berpikir dan bersikap kritis itu ditandai oleh hal-hal berikut: (a) kemampuan menginterpretasi; (b) menganalisis; (c) mengorganisasi; (d) menilai; dan (e) menerapkan konsep secara kritis. Terdapat enam teknik yang dapat digunakan untuk meningkatkan sikap kritis, yakni: (a) kemampuan mengingat dan mengenali bahan bacaan, (b) kemampuan menginterpretasi makna tersirat, (c) kemampuan mengaplikasikan konsep-konsep dalam bacaan, (d) kemampuan menganalisis isi bacaan, (e) kemampuan menilai isi bacaan, (f) kemampuan mencipta (to create) bacaan.

Keenam sikap kritis tersebut sejalan dengan konsep berpikir pada tataran ranah kognitif dalam Taksonomi Bloom yang sudah direvisi oleh Anderson dan Krathwhol (2001:268). Ranah-ranah dimaksud meliputi hal-hal berikut. (a) kemampuan mengingat dan mengenali; (b) kemampuan memahami / menginterpretasi makna tersirat; (c) kemampuan mengaplikasikan konsep-konsep; (d) kemampuan menganalisis; (e) kemampuan menyimpulkan (sintesis); dan (f) kemampuan menilai isi bacaan. Kegiatan membaca kritis akan dapat dilakukan jika pembaca memenuhi beberapa persyaratan berikut ini: (a) memiliki pengetahuan yang memadai mengenai bidang ilmu yang disajikan dalam bacaan; (b) tidak tergesa-gesa dalam bertanya dan menilai bacaan; (c) berpikir analitis, kritis, logis, dan sistematis; (d) menerapkan berbagai metode analisis yang logis dan ilmiah. Secara sederhana, kritik terhadap teks bacaan dapat dilakukan dengan cara:l) memahami isi bacaan; 2) mencari dan mencatat kelernahan-kelemahan bacaan, baik yang menyangkut isi maupun cara penyajian; 3) mencari kriteria atau aturan yang benar mengenai objek yang dinilai; dan 4) membandingkan kelemahan dengan kriteria.

Menilai bacaan secara kritis dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah berikut ini: a) memahami maksud penulis, b) memahami organisasi dasar tulisan; dan c) menilai penyajian penulis/pengarang. Beberapa manfaat yang bisa dipetik dari kegiatan membaca kritis adalah: (a) pemahaman yang mendalam dan komprehensif terhadap materi bacaan; (b) kemampuan mengingat yang lebih kuat dan lama sebagai hasil dari usaha memahami berbagai hubungan antarfakta dalam bahan bacaan, antarfakta di luar bacaan, dan hubungan dengan pengalaman personal; (c) kepercayaan diri yang mantap dalam memberikan pendapat tentang isi bacaan. Untuk menilai bacaan sehari-hari seperti koran, di samping harus memperhatikan hal-hal umum tadi, juga harus memperhatikan: l) penyensoran tersembunyi {hidden censorship); 2) pilihan bahasa (choice of language); dan 3) posisi (position).

Hakikat Berbicara 

Saudara mahasiswa, secara umum berbicara merupakan proses penuangan gagasan dalam bentuk ujaran-ujaran. Ujaran-ujaran yang muncul merupakan perwujudan dari gagasan yang sebelum berada pada tataran ide.

Ada beberapa hal yang perlu diungkapkan berkaitan dengan batasan berbicara, yaitu 1. berbicara merupakan ekspresi diri; 2. berbicara merupakan kemampuan mental motorik; 3. berbicara terjadi dalam konteks ruang dan waktu; 4. berbicara merupakan keterampilan berbahasa yang produktif. 

Tujuan utama berbicara adalah untuk menuangkan gagasan-gagasan pembicara kepada pendengar dengan media bahasa lisan. Secara khusus tujuan berbicara antara lain memberi informasi, menyatakan diri, mencapai tujuan, berekspresi, menghibur, dan lain-lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, kegiatan berbicara dikelompokkan berdasarkan situasi, yakni berbicara dalam situasi nonformal dan berbicara dalam situasi formal. Berbicara nonformal tidak seketat berbicara formal. Jika berbicara formal dibatasi oleh ruang dan waktu, situasi dalam berbicara nonformal tidak terbatas ruang dan waktu. Di mana pun kegiatan berbicara dapat dilangsungkan tanpa harus ada persiapan sebelumnya.

Wawancara


Biasanya, wawancara sering digunakan oleh mahasiswa sebagai salah satu cara untuk pengambilan data penelitian. Setiap mahasiswa yang akan menyelesaikan studinya diwajibkan membuat karya tulis sebagai syarat kelulusan. Karya tulis tersebut dapat berupa hasil penelitian. Teknik yang digunakan dalam pencarian data dapat dilakukan dengan cara wawancara.

Komunikasi yang terjadi dalam wawancara adalah komunikasi lisan. Oleh karena itu, diperlukan keterampilan berbicara yang memadai jika mahasiswa ingin mendapat data yang lengkap dan jelas. Kekurangmahiran berbicara akan mengakibatkan efek-efek yang kurang menguntungkan, misalnya data yang didapatkan tidak lengkap atau terjadi salah pengertian antara pewawancara dengan orang yang diwawancarai.

Kegiatan berbicara formal adalah kegiatan berbicara yang dilakukan dalam situasi atau acara-acara formal. Berbicara formal dikelompokkan menjadi dua yaitu monolog dan dialog. Berbicara monolog adalah berbicara satu arah, artinya dalam kegiatan berbicara tersebut tidak terjadi interaksi antara pembicara dengan pendengar. Kegiatan berbicara yang bersifat monolog; pidato/sambutan dan memandu. Memandu dapat berupa memandu acara dan memandu wisatawan. Kegiatan berbicara yang bersifat dialog; wawancara dan diskusi. Diskusi memiliki ragam antara lain seminar dan simposium.

Untuk memperoleh keterampilan berbicara formal diperlukan penguasaan terhadap faktor-faktor yang menentukan keberhasilan berbicara. Faktor-faktor tersebut adalah faktor kebahasaan dan nonkebahasaan. Faktor kebahasaan meliputi pengucapan atau pelafalan fonem, penerapan intonasi, pilihan kata (diksi), dan penggunaan struktur kalimat. Faktor nonkebahasaan meliputi keberanian, kelancaran, kenyaringan suara, pandangan, gerak-gerik, penalaran, dan sikap yang wajar.

Saudara mahasiswa, dalam ranah ilmu pengetahuan, karya ilmiah populer dimaknai sebagai suatu bentuk karya yang ditujukan untuk masyarakat umum, sedangkan karya ilmiah ditujukan untuk kaum profesional. Ada batasan hal yang lebih khusus terkait dengan kandungan tulisan ilmiah populer sebagai sebuah tulisan yang bersifat ilmiah, yaitu gaya dan cara penulisan dan penuturannya yang mudah dimengerti. Hal ini berbeda dengan karya sastra yang lebih mengutamakan unsur estetika, sehingga kosa kata yang digunakannya pun cenderung membingungkan dan berbunga-bunga. 


Bentuk tulisan ilmiah populer, antara lain dapat berupa:

a. Deskriptif-Naratif, yaitu suatu bentuk tulisan yang bersifat ringan dan tidak membutuhkan rasa penasaran pembaca. Dan isinya pun dapat dinikmati secara rileks. Misalnya, tulisan yang dimuat oleh surat kabar seperti koran, majalah wanita, atau majalah keterampilan;

b. Deskriptif-Ekspositoris, yaitu suatu tulisan yang menyuguhkan kupasan tulisan secara mendalam. Misalnya, tulisan tentang riwayat penemuan atau sejarah terjadinya sesuatu secara historis, atau proses pembentukan sesuatu. Dalam tulisan ini dapat dimuat juga hal-hal yang terkait penjelasan yang berkenaan dengan aspek 'mengapa' dan 'bagaimana'. Contoh tulisan yang memuat hal-hal tersebut adalah sajian pada majalah Intisari, Tempo, atau Trubus.

c. Deskriptif-Argumentatif, yaitu tulisan yang menyuguhkan masalah yang disertai dengan cara pemecahan masalahnya. Misalnya, tulisan pada media berupa jurnal penelitian.

Ada beberapa macam karya ilmiah, antara lain laporan praktikum atau laporan buku, kertas kerja atau makalah, skripsi, tesis, disertasi, serta textbook. Adapun ciri-cirinya antara lain berisi fakta empiris yang sudah teruji dan dapat diuji kebenarannya, tidak subjektif, tidak mengandung unsur spekulatif dan bersifat sensasional, memerlihatkan kerja nalar dan bersifat analitis, mampu menjelaskan 'mengapa' dan 'bagaimana' sesuatu yang disajikan itu terjadi, serta bahasannya tidak menyimpang atau melebar dari pokok/tema tulisan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Obat Alami Menurunkan Kolesterol

JAWABAN TUGAS 3 STATISTIKA EKONOMI